Posted by : Suratno Senin, 25 April 2011

A. Profesi, Professional, dan Profesionalisasi

Secara estimologi, istilah profesi berasal dari bahasa Inggris yaitu profession atau bahasa latin, profecus, yang artinya mengakui, adanya pengakuan, menyatakan mampu, atau ahli dalam melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan secara terminologi, profesi berarti suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental; yaitu adanya persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis, bukan pekerjaan manual (Danin, 2002). Jadi suatu profesi harus memiliki tiga pilar pokok, yaitu pengetahuan, keahlian, dan persiapan akademik.

Profesi Keguruan, kata Profesi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan, dsb) tertentu. Di dalam profesi dituntut adanya keahlian dan etika khusus serta standar layanan. Pengertian ini mengandung implikasi bahwa profesi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang secara khusus di persiapkan untuk itu. Dengan kata lain profesi bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak memperoleh pekerjaan lain.

Profesi adalah suatu pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya memerlukan/menuntut keahlian (expertise), menggunakan teknik-teknik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi. Keahlian diperoleh dari lembaga pendidikan yang khusus diperuntukkan untuk itu dengan kurikulum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian seorang profesional jelas harus memiliki profesi tertentu yang diperoleh melalui sebuah proses pendidikan maupun pelatihan yang khusus, dan disamping itu pula ada unsur semangat pengabdian (panggilan profesi) didalam melaksanakan suatu kegiatan kerja. Hal ini perlu ditekankan benar untuk mem bedakannya dengan kerja biasa (occupation) yang semata bertujuan untuk mencari nafkah dan/ atau kekayaan materiil-duniawi Dua pendekatan untuk mejelaskan pengertian profesi:

1. Pendekatan berdasarkan Definisi

Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.

2. Pendekatan Berdasarkan Ciri

Definisi di atas secara tersirat mensyaratkan pengetahuan formal menunjukkan adanya hubungan antara profesi dengan dunia pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan tinggi ini merupakan lembaga yang mengembangkan dan meneruskan pengetahuan profesional. Karena pandangan lain menganggap bahwa hingga sekarang tidak ada definisi yang yang memuaskan tentang profesi yang diperoleh dari buku maka digunakan pendekatan lain dengan menggunakan ciri profesi. Secara umum ada 3 ciri yang disetujui oleh banyak penulis sebagai ciri sebuah profesi. Adapun ciri itu ialah:

a. Sebuah profesi mensyaratkan pelatihan ekstensif sebelum memasuki sebuah profesi. Pelatihan ini dimulai sesudah seseorang memperoleh gelar sarjana. Sebagai contoh mereka yang telah lulus sarjana baru mengikuti pendidikan profesi seperti dokter, dokter gigi, psikologi, apoteker, farmasi, arsitektut untuk Indonesia. Di berbagai negara, pengacara diwajibkan menempuh ujian profesi sebelum memasuki profesi.

b. Pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual yang signifikan. Pelatihan tukang batu, tukang cukur, pengrajin meliputi ketrampilan fisik. Pelatihan akuntan, engineer, dokter meliputi komponen intelektual dan ketrampilan. Walaupun pada pelatihan dokter atau dokter gigi mencakup ketrampilan fisik tetap saja komponen intelektual yang dominan. Komponen intelektual merupakan karakteristik profesional yang bertugas utama memberikan nasehat dan bantuan menyangkut bidang keahliannya yang rata-rata tidak diketahui atau dipahami orang awam. Jadi memberikan konsultasi bukannya memberikan barang merupakan ciri profesi.

c. Tenaga yang terlatih mampu memberikan jasa yang penting kepada masyarakat. Dengan kata lain profesi berorientasi memberikan jasa untuk kepentingan umum daripada kepentingan sendiri. Dokter, pengacara, guru, pustakawan, engineer, arsitek memberikan jasa yang penting agar masyarakat dapat berfungsi; hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh seorang pakar permainan catur, misalnya. Bertambahnya jumlah profesi dan profesional pada abad 20 terjadi karena ciri tersebut. Untuk dapat berfungsi maka masyarakat modern yang secara teknologis kompleks memerlukan aplikasi yang lebih besar akan pengetahuan khusus daripada masyarakat sederhana yang hidup pada abad-abad lampau. Produksi dan distribusi enersi memerlukan aktivitas oleh banyak engineers. Berjalannya pasar uang dan modal memerlukan tenaga akuntan, analis sekuritas, pengacara, konsultan bisnis dan keuangan. Singkatnya profesi memberikan jasa penting yang memerlukan pelatihan intelektual yang ekstensif.’


Menurut Ornstein dan Levine (1984) menyatakan bahwa profesi itu adalah jabatan yang sesuai dengan pengertian profesi di bawah ini:

1. Melayani masyarakat merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat.
2. Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu diluar jangkauan khalayak ramai.
3. Menggunakan hasil penelitin dan aplikasi dari teori ke praktik.
4. Memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang
5. Terkendali berdasarkan lisensi buku dan atau mempunyai persyaratan yang masuk.
6. Otonomi dalam membuat keputusan tentang ruang lingkup kerja tertentu
7. Menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang gerhubungan denan layanan yang diberikan
8. Mempunyai komitmen terhadap jabatan dan klien
9. Menggunakan administrator untuk memudahkan profesinya relatif bebas dari supervisi dalam jabatan
10. Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesi sendiri
11. Mempunyai asosiasi profesi dan atau kelompok ‘elit’ untuk mengetahui dan mengakui keberhasilan anggotanya
12. Mempunyai kode etik untuk menjelaskan hal-hal yang meragukan atau menyangsikan yang berhubungan dengan
13. Mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi

• Syarat-syarat Profesi
Berdasarkan pengertian dan cirri-ciri profesi yang telah disebutkan di atas, maka dapat ditarik beberapa hal yang menjadi syarat-syarat Profesi seperti:

1. Standar untuk kerja
2. Lembaga pendidikan khusu untuk menghasilkan pelaku profesi dengan standar kualitas
3. Akademik yang bertanggung jawab
4. Organisasi profesi
5. Etika dan kode etik profesi
6. Sistem imbalan
7. Pengakuan masyarakat

Suatu pekerjaan profesional memerlukan persyaratan khusus, yakni : (1) menuntuk adanya keterampilam konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam; (2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesua dengan bidang profesinya; (3) menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai; (4) adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya; (5) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan (Moh. Ali, 1985). Selain persyaratan di atas, Usman menambahkan, yaitu (1) memiliki kode etik, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya; (2) memiliki klien/objek layanan yang tetap, seperti dokter dengan pasiennya, guru dengan muridnya; (3) diakui oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya di masyarakat (Usman, 2005).

Kata “profesional” dalam kamus setelah diberi dua arti kata yang hampir berlawanan. Satu definisi mengatakan bahwa “professional”, khususnya dibidang olah raga dan seni, ialah kata lain buat “pemain bayaran” lawan “pemain amatir”. Jadi kita mengenal, misalnya, pemain tenis, sepak bola, sandiwara, musik, “profesional”, yaitu orang-orang yang melakukan kegiatan olah raga dan seni dengan menerima bayaran. Di samping itu kita juga mengenal pemain-pemain “amatir”, yaitu orang-orang yang juga melakukan kegiatan yang sama tapi hanya untuk kesenangan saja, bukan untuk mencari uang.

Definisi lain, yang bersumber dari sosiologi, memiliki konotasi simbolik berisi nilai. “profesi” ialah istilah yang merupakan suatu model bagi konsepsi pekerjaan yang diinginkan, dicita-citakan. Istilah ideologis ini dipakai sebagai acuan bagi usaha suatu pekerjaan dalam meningkatkan statusnya, ganjaran dan kondisi bekerjanya.

Profesi telah dirumuskan dalam sejumlah definisi yang berlainan. Walaupun begitu, tentang substansinya tidak banyak berbeda, misalnya Webster’s New World Dictionary menjelaskan profesi sebagai “suatu pekerjaan yang meminta pendidikan tinggi dalam liberal arts atau science, dan biasanya meliputi pekerjaan mental, bukan pekerjaan manual, seperti mengajar, keinsinyuran, mengarang, dan seterusnya; terutama kedokteran, hukum atau teologi (dulu disebut profesi-profesi berilmu). Good Dictionary Of Education mendefinisikannya sebagai “suatu pekerjaan yang meminta persiapan spesialisasi yang relatif lama di perguruan tinggi dan dikuasai oleh suatu kode etik yang khusus”. Dari kedua definisi itu je;as sudah bahwa tidak setiap pekerjaan disebut profesi, karena harus memenuhi sejumlah kriteria tertentu.

Vollmer, yang mendekati masalah profesi dari sudut pandangan sosiologi, menyarankan bahwa profesi menunjuk pada suatu kelompok pekerjaan dari jenis yang ideal, yang sebenernya tidak ada dalam kenyataan tapi menyediakan suatu model status pekerjaan yang bias diperoleh bila pekerjaan itu telah mencapai profesionalisasi dengan penuh. Dengan kata lain, istilah profesi menunjuk kepada suatu model yang abstrak dari sekelompok pekerjaan yang telah mencapai status profesi penuh, sedang istilah profesionalisasi menunjuk kepada proses dalam mana sekelompok pekerjaan sedang mengubah sifat-sifatnya yang esensial mendekati model profesi yang sungguh.

Memang, dewasa ini terdapat banyak contoh tentang kelompok-kelompok pekerjaan, seperti keinsinyuran, akuntansi, kehakiman, farmasi, optometri, mengajar, mengarang dan banyak lagi pekerjaan lain yang sedang mencapai (setidaknya dalam bentuk permulaan) beberapa cirri yang biasanya menandai profesi-pofesi klasik seperti pendeta, ahli hokum, dan dokter yaitu pekerjaan-pekerjaan yang mula-mula hadir di masyarakat barat.

Tentang pekerjaan apa yang telah memenuhi model profesi klasik atau ideal itu diantara para ahli tidak diperoleh kata sepakat penuh. Walaupun begitu, ada terdapat kesepakatan mengenai sejumlah sifat yang saling berkaitan yang menandai profesi ideal. Citra tentang profesi ideal ini terdiri atas sejumlah idetentang jenis dan sifat pekerjaan yang dijalankan oleh profesi sungguh, fungsi pengetahuan spesialisasi dalam pelaksanaan pelayanan professional, sifat kewenangan yang dimiliki oleh kelompok profesi, hubungan antara anggota kelompok profesi dengan klien dan masyarakat, dan penerimaan calon serta jenis pendidikan yang diperlukan bagi pekerjaannya. Ini tidak berarti bahwa sifat-sifat itu harus dibuat benar-benar berlaku jika pekerjaan itu hendak menjadi profesi sungguh.

Sifat-sifat ideal inilah yang dimaksud oleh para anggota pekerjaan yang telah diakui sebagai profesi, kalau mereka berbicara tentang tanggung jawab professional mereka. Sifat-sifat inilah pula yang dimaksud, bila anggota kelompok pekerjaan yang telah biasa dipikirkan sebagai profesi sungguh berusaha untuk menuntut status professional bagi dirinya. Jadi, profesionalisasi adalah suatu proses perubahan dalam status pekerjaan dari yang non-profesi atau semi-profesi ke arah profesi singguh. Maka konsep profesionalisasi dapat dipakai untuk menunjuk kepada suatu proses yang dinamis dalam mana pekerjaan-pekerjaan mengubah sifat-sifatnya yang esensial kearah suatu profesi sungguh, walaupun beberapa dari mereka mungkin tidak banyak bergerak terlalu jauh ke arah ini.

B. Karakteristik Profesi

Dalam literatur banyak dijumpai macam-macam deskripsi tentang unsur-unsur esensial profesi itu. Moorre mengidentifikasikan profesi itu menurut cirri-ciri berikut :
1. Seorang profesional menggunakan waktu penuh untuk menjalankan pekerjaannya.
2. Ia terikat oleh suatu panggilan hidup, dan dalam hal ini ia memperlakukan pekerjaannya sebagai seperangkat norma kepatuhan dan perilaku.
3. Ia anggota organisasi professional yang formal.
4. Ia menguasai pengetahuan yang berguna dan keterampilan atas dasar latihan spesialisasi atau pendidikan yang sangat khusus.
5. Ia terikat oleh syarat-syarat kompetensi, kesadaran prestasi dan pengabdian.
6. Ia memperoleh otonomi berdasarkan spesialisasi teknis yang tinggi sekali.

Greenwood menyarankan bahwa profesi-profesi dibedakan dari non-profesi karena memiliki unsur-unsur esensial berikut :
1. Suatu dasar teori sistematis
2. Kewenangan yang diakui oleh klien
3. Sanksi dan pengakuan masyarakat atas kewenangan ini
4. Kode etik yang mengatur hubungan-hubungan dari orang-orang profesional dengan klien dan teman sejawat
5. Kebudayaan profesi yang terdiri atas nilai-nilai, norma-norma, dan lambing-lambang

Di bidang pendidikan juga telah dilakukan usaha untuk menguraikan unsur-unsur esensial profesi itu. Komisi Kebijaksanaan Pendidikan NEA Amerika Serikat, misalnya, menyebut enam kriteria bagi profesi di bidang pendidikan :
1. Profesi didasarkan atas sejumlah pengetahuan yang dikhususkan
2. Profesi mengejar kemajuan dan kemampuan para anggotanya
3. Profesi melayani kebutuhan para anggotanya (akan kesejahteraan dan pertumbuhan profesional)
4. Profesi memiiki norma-norma etis
5. Profesi mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah di bidangnya (mengenai perubahan-perubahan dalam kurikulum, struktur organisasi pendidikan, persiapan professional, dst)
6. Profesi memiliki solidaritas kelompok profesi

Buku Tahunan Persatuan Administator Sekolah Amerika Serikat, yang juga menetapkan enam kriteria bagi profesi di bidang pendidikan, menjelaskan bahwa profesi :
1. Berbeda dengan pekerjaan lain karena memiki sejumlah pengetahuan yang unik, yang dikuasai dan dipraktekkan oleh para anggotanya
2. Memiliki suatu ikatan yang kuat terdiri dari para anggotanya dan aktif megatur syarat-syarat memasuki profesi
3. Memiliki kode etik yang dapat memaksa
4. Memiliki literatur sendiri, walaupun ia mungkin menimba kuat dari banyak disiplin akademis untuk isinya
5. Biasanya memberikan jasa-jasa kepada masyarakat dan digerakkan oleh cita-cita yang mengatasi tujuan-tujuan mementingkan diri sendiri semata-mata
6. Tidak hanya professional tetapi juga dilihat demikian oleh masyarakat

Formulasi-formulasi tentang profesi tersebut diatas itu, walaupun dinyatakan dalam kata-kata yang berbeda, pada hakekatnya memperlihatkan persamaan yang besar dalam substansinya. Kiranya dapat disimpulkan bahwa profesi ideal memiliki unsur-unsur sebagai berikut :

1. Suatu dasar ilmu atau teori sisematis
2. Kewenangan profesional yang diakui oleh klien
3. Sanksi dan pengakuan masyarakat akan keabsahan kewenangannya
4. Kode etik yang regulatif
5. Kebudayaan profesi
6. Persatuan profesi yang kuat dan berpengaruh
Unsur-unsur ini akan dijelaskan lebih lanjut berikut ini.

C. Unsur-unsur Profesi

1. Teori sistematis

Teori adalah suatu system asas dan proposisi abstrak yang menguraikan dalam kata-kata umum jenis-jenis fenomen yang menjadi pusat perhatian profesi. Ia tidak dapat diterapkan dengan rutin melainkan dengan bijaksana pada setiap kasus. Keterampilan yang menandai suatu profesi diturunkan dari dan didukung oleh teori. Jadi, teori dan praktek itu merupakan suatu perpaduan. Untuk menghasilkan teori yang sahih, yang akan menyediakan dasar yang kuat bagi teknik-teknik professional, diperlukan penerapan metode ilmiah kepada masalah-masalah profesi. Penggunaan metode ilmiah ini dipupuk oleh dan pada gilirannya memperkuat unsur rasionalitas yang menggalakkan sikap kritis terhadap teori. Ini berarti kesediaan untuk senantiasa meninggalkan setiap bagian teori, betapa pun tua dan dihormatinya, dan menggantinya dengan formulasi yang telah terbukti lebih sahih. Jiwa rasionalitas ini membawa kembali kepada kritik-kritik kelompok dan perbedaan pandangan teoritis. Para anggota profesi berkumpul secara periodik dalam persatuan mereka untuk mempelajari dan menilai inovasi-inovasi dalam teori. Ini menghasilkan suatu lingkungan yang merangsang akal, yang sangat berbeda dengan lingkungan pekerjan yang non-profesi.

Pentingnya teori bagi perbuatan professional membawa implikasi-implikasi. Pertama, pendidikan akademis yang lama dipandang perlu karena pemahaman teori itu begitu penting bagi keterampilan professional, maka persiapan bagi suatu profesi harus meliputi pengalaman intelektual mapupun praktis. Kedua, hanyalah orang-orang yang paling sanggup dipandang akan memiliki kemampuan intelektual untuk menerima dan menggunakan pengetahuan serupa itu. Karenanya pengambilan para calon harus diawasi dengan ketat melalui saringan dan proses pendidikan yang teliti dan panjang yang menyingkirkan mereka yang kurang sanggup.

2. Kewenangan professional

Pendidikan yang ekstensif dalam teori sistematis dan bidang ilmunya member seorang professional jenis pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang bukan ahli dalam bidang ilmu itu. Kenyataan ini menjadi dasar bagi kewenangan seorang professional. Misalnya, seorang dokter menentukan apa yang “baik” atau “buruk” bagi pasien, disebabkan ia tidak memilik latar belakang teoritis yang diperlukan (dan karenanya tidak dapat menentukan diagnose tentang kebutuhannya sendiri), tidak mempunyai pilihan lain dari pada menyetujui pertimbangan professional sang dokter.

Unsur kewenangan ini ialah alas an mengapa orang-orang professional menuntut otonomi dan tanggung jawab dalam pekerjaan mereka. Akan tetapi kewenangan ini tidak tanpa batas, fungsinya terbatas hanya pada bidang-bidang khusus dalam mana seorang professional telah dididik dan dilatih. Jadi, seorang professional tidak dapat menetapkan petunjuk-petunjuk mengenai segi-segi kehidupan klien dimana kemampuan teoritisnya tidak berlaku. Berani memberikan petunjuk serupa itu ialah memasuki suatu wilayah dimana ia sendiri ialah seorang awam dan karenanya melanggar kelompok profesional lain.

Kewenangan pribadi orang-orang profesional dalam berhadapan dengan klien atau pekerja bawahan didasarkan atas kemampuan yang tinggi dari mereka, tidak karena mereka memangku jabatan tertentu dalam lembaga. Kenyataan bahwa mereka telah memperoleh keterampilan-keterampilan yang lengkap dan sudah memiliki norma-norma dan standar-standar mambuat hadirnya orang-orang yang mengkhususkan dalam pengawasan tidak perlu. Setiap professional diharapkan untuk berfungsi secara mandiri dan otonom. Walaupun ia mungkin mencari bantuan dari kolega-kolega yang lebih cakap atau lebih berpengalaman, ia menerima nasehat dan pendapat dari mereka bukan perintah. Ia membuat keputusan-keputusan sendiri dan menghadapi konsekuensi-konsekuensinya.

Pembicaraan diatas ini ialah lukisan tentang perilaku para professional yang bekerja mandiri. Tapi ini sekarang tidak lagi menggambarkan dengan akurat situasi social dari banyak professional modern. Sekarang para dokter berafiliasi dengan rumah sakit dan klinik, para pengacara dengan lembaga-lembaga hukum, para ilmuwan dan insinyur dengan industri, pemerintah, organisasi-organisasi penelitian, dan lembaga-lembaga pendidikan. Tidak ada profesi yang sama sekali terlepas dari proses birokratisasi yang sedang tumbuh.

Seorang professional yang menerima gaji, karenanya adalah macam orang yang berbeda. Ia adalah seorang “birokrat” atau “manusia organisasi”. Salah satu factor penting dari situasi yang baru ini adalah bahwa pekerjaannya dapat dinilai dan dikontrol oleh orang lain tidak harus anggota dari kelompok profesinya. Jadi, bila para professional dipekerjakan oleh suatu organisasi, muncullah perubahan yang fundamental dalam situasi mereka. Mereka harus mengorbankan beberapa dari otonomi mereka dan menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan organisasi karena alas an sederhana. Mereka tidak memiliki semua keterampilan dasar untuk menjalankan pekerjaan itu, mereka hanyalah bagian dari sistem yang lebih besar dan lebih kompleks di mana mereka menjalankan sebagian saja dari seluruh kegiatan yang diperlukan. Maka kegiatan-kegiatan mereka harus diatur supaya sesuai dengan maksud-maksud organisasi maupun terkoordinasi dengan kegiatan-kegiatan orang-orang yang lainnya. Disinilah muncul suatu konflik yang potensial. Birokrasi menetapkan peraturan-peraturan sendiri yang bias menyebabkan hambatan-hambatan bagi perilaku professional mereka dalam berbagai cara. Orang-orang professional yang bekerja pada organisasi-organisasi birokratis menolak pembatasan-pembatasan serupa itu kalau mereka merasa bahwa peraturan-peraturan organisasi menghambat pekerjaan mereka.

3. Sanksi masyarakat

Kewenangan yang dilukiskan di atas menyarankan suatu bentuk kekuasaan monopolistis kelompok profesi dalam menjalankan praktek dibidangnya. Setiap kelompok profesi berusaha agar masyarakat menguatkan kewenangannya dengan memberikan sejumlah kekuasaan dan hak khusus tertentu. Pengakuan masyarakat akan kekuasaan dan hak-hak tertentu itu dapat formal atau informal. Pengakuan formal ialah kesepakatan yang diperkuat oleh kekuatan hukum.

Di antara kekuasaannya itu ialah pengawasan profesi atas pemasukan ke dalam profesi melalui pusat-pusat pendidikannya. Ini dicapai melalui suatu proses akreditasi, yaitu pengakuan bahwa program pendidikan yang dijalankan oleh suatu pusat pendidikan telah memenuhi standar-standar yang diminta oleh lembaga akreditasi, suatu profesi (dalam teori) dapat mempengaruhi program-program pendidikannya mengenai lama studi, isi dan komposisi kurikulum, dan kualitas pengajarannya. Diploma yang diterimakan oleh lembaga pendidikan professional yang telah diakui itu (accredited) memberikan kewenangan untuk menjalankan praktek. Diploma ialah bagian dari system lisensi. Kekuatan hukum mendukung system lisensi itu : orang-orang yang melakukan praktek professional tanpa ijin dapt dihukum.

4. Kode etik

Monopoli yang diminati oleh suatu profesi membawa resiko bagi klien dan masyarakat yang dilayaninya. Monopoli bias disalahgunakan, kekuasaan dan hak-hak istimewa dapat dipakai untuk melindungi kepentingan pribadi yang bertentangan dengan kesejahteraan masyarakat. Maka, untuk mencegah penyalahgunaan serupa itu, setiap profesi menetapkan seperangkat pedoman yang memaksa perilaku etis dipihak para anggotanya. Sudah tentu, kode yang regulatif adalah karakteristik dari semua pekerjaan, yang nonprofesi maupun yang telah mencapai status professional. Akan tetapi, suatu kode professional adalah barangkali lebih eksplisit, lebih sistematis, dan lebih mengikat. Ia lebih altruistis, mementingkan kesejahteraan orang lain, dan lebih berorientasi pada pelayanan masyarakat umum.

Walaupun perincian kode etik itu berbeda-beda diantara profesi-profesi, tapi intisarinya adalah sama. Ini mungkin dapat diuraikan dalam kata-kata hubungan seorang professional dengan klien dan hubungan antara kawan sekerja. Terhadap klien, seorang professional harus memperlihatkan sikap dan perasaan yang tidak memihak. Ia harus memberikan jasa kepada siapa pun yang memintanya tanpa memandang umur, penghasilan, keluarga, politik, bangsa, agama, jenis kelamin, dan status sosial dari klien. Seorang professional dapat digerakkan lebih oleh bisikan hati untuk berbuat sebaik-baiknya daripada oleh kepentingan pribadi. Jadi, seorang professional dalam keadaan apapun harus memberikan jasa yang paling bermutu dan ia harus siap sedia untuk memberikan jasanya atas permintaan walaupun dengan mengorbankan kesenangan pribadinya.

Profesi yang ideal menggambarkan suatu kelompok yang anggota-anggotanya memiliki motivasi dan sikap yang selalu memikirkan dan menolong orang lain. Kode etiknya sangat menekankan pengabdian kepada masyarakat, profesinya, dan kebaikan kliennya, serta menolak penyalahgunaan keterampilan professional untuk tujuan pribadi.

Etik yang menguasai hubungan antara teman sekerja menuntut perilaku yang kooperatif, mempersamakan, dan mendukung. Kompetensi yang agresif dan mengiklankan diri harus dicegah. Sebaliknya konsultasi dan hal meneruskan klien merupakan sumber pekerjaan utama bagi seorang professional. Konsultasi ialah kebiasaan untuk mengundang seorang kolega untuk ikut serta dalam penilaian kebutuhan klien atau dalam perencanaan pelayanan yang akan diberikan. Referral ialah kebiasaan untuk meneruskan klien kepada seorang kolega disebabkan oleh kurangnya waktu atau kurangnya keterampilan sehingga dapat mengurangi pemberian pelayanan yang sebaik-baiknya.

5. Kebudayaan profesi

Kebudayaan profesi terdiri atas nilai-nilai, norma-norma, symbol-simbol dan konsep karir. Nilai-nilai sosial dari suatu kelompok professional ialah anggapan-anggapannya yang dasar dan fundamental. Yang paling penting diantara nila-nilai ini ialah nilai esensial dari jasa yang disampaikan oleh kelompok professional kepada masyarakat. Profesi memandang bahwa jasanya itu suatu kebajikan sosial dan bahwa kesejahteraan masyarakat akan sangat dirugikan oleh ketakhadirannya.

Norma-norma kelompok professional ialah pedoman bagi perilaku dalam situasi sosial. Ada cara-cara yang layak untuk memperoleh ijin untuk memasuki profesi, untuk meningkat dalam hierarki jabatan untuk memperoleh klien, untuk menghadapi dan memperlakukan kilen, untuk menerima dan menolaknya. Singkatnya, ada suatu norma perilaku yang mengatur setiap situasi antara pribadi yang mungkin terjadi dalam kehidupan kelompok professional.

Simbol-simbol suatu profesi dapat meliputi hal-hal seperti lencana lambing dan pakaian yang membedakan ; sejarahnya, folklornya, dan pahlawan-pahlawannya. Konsep karir suatu profesi menunjuk kepada sikap tertentu terhadap pekerjaan. Suatu karir adalah esensial suatu “panggilan hidup” yang diabdikan kepada “pekerjaan yang mendatangkan kebajikan”. Pekerjaan professional tidak pernah dipandang semata-mata sebagai alat untuk suatu tujuan; pekerjaan professional itu sendiri adalah tujuan menyembuhkan yang sakit, mendidik anak dan remaja, memajukan ilmu pengetahuan. Itu sendiri adalah nilai-nilai seorang professional memberikan jasa-jasanya. Pertama-tama untuk kepuasan, psikis dan kedua untuk imbalan financial.

Untuk berhasil dalam profesi yang dipilihnya, orang yang baru mulai harus menyesuaikan diri dengan efektif kepada kebudayaan profesi. Penguasaan teori dan keterampilan teknis itu sendiri belum lagi menjamin keberhasilan profesionalnya. Ia juga harus mengenal kebudayaan profesinya. Karenanya, penjelmaan orang yang baru mulai menjadi seorang professional adalah esensial suatu proses akulturasi dalam mana ia menghayati nilai-nilai sosial, norma-norma perilaku dan lambing-lambang kelompok profesionalnya.

6. Persatuan profesi

Profesi yang sungguh memiliki suatu ikatan profesi yang kuat dan berpengaruh, yang perlu untuk membantu dan menjamin terpenuhinya kriteria yang diuraikan dimuka. Keharusan tindakan bersama yang teratur sering dipandang sifat status profesi yang paling menonjol. Ini muncul dari tanggung jawab kelompok terhadap masyarakat diatas kewajiban anggota secara perseorangan. Tindakan efektif yang dipersatukan bagi pencapaian syarat-syarat profesi dan peningkatan status sosialnya hanya mungkin melalui usaha suatu organisasi profesi secara menyeluruh.

Suatu profesi adalah lebih dari sekelompok individu yang berwenang, karena suatu profesi secara keseluruhan mempunyai tanggung jawab atas kualitas jasa sosialnya yang unik, nyata, dan esensial, dan atas pengembangan dan pemaksaan standar-standar dalam seleksi pendidikan dan perbuatan para anggotanya. Tanggung jawab serupa itu dapat dibebankan hanya bila profesi memiliki suatu bentuk organisasi, termasuk mekanisme buat formulasi kebujaksanaan tentang dan pemaksaan terhadap kepatuhan para anggotanya. Pada profesi-profesi yang telah mantap kita dapat mengharapkan akan menemukan organisasi-organisasi khusus dan umum, yang diciptakan untuk memenuhi tugas-tugas professional ini. “criteria yang benar dari status profesional” kata Kinney “adalah pengakuan akan perlunya usaha bersama”.

D. Konsep Profesionalisasi Pekerjaan

Berpegang pada model profesi dengan enam unsur pokoknya seperti diuraikan di muka, maka orang-orang dan kelompok-kelompok pekerjaan yang benar-benar professional akan ditandai dengan semua unsur tersebut, tidak dengan beberapa dari unsur-unsur itu, tidak dengan kebanyakan dari unsur-unsur itu. Unsur-unsur tersebut karenanya, dapat dipakai sebagai kriteria; dan bila kita bertanya pada diri sendiri apakah kita benar-benar profesional, maka kita mempunyai cara untuk menperoleh jawabannya.

Diukur dengan kriteria diatas banyak kelompok pekerjaan, yang biasanya dianggap berada dalam konteks profesi-profesi tradisional, tidak mencukupi model profesi dalam hal-hal yang pokok. Karena itu akan lebih berguna untuk menganalisa dan melukiskan pekerjaan-pekerjaan dalam konsep profesionalisasi. Maka pekerjaan-pekerjaan tidak lagi dibagi dalam dua kelompok yang berlawanan, yaitu profesi dan non-profesi, melainkan disusun dalam suatu rangkaian (continuum) dengan profesi-profesi dari “tipe ideal” pada satu ujung dan pekerjaan-pekerjaan yang sama sekali tak teratur atau “non-profesi” pada ujung lainnya. Sepanjang rangkaian dari ujung yang disebut terdahulu dideretkanlah apa yang disebut “semi profesi”.”quasi profesi”, “profesi sedang muncul”, yang memiliki sejumlah tapi tidak semua karakteristik profesi dan sepanjang rangkaian yang lebih jauh lagi adalah pekerjaan tukang dan pekerjaan rutin yang non-manual, yang memenuhi hanya beberapa dari karakteristik profesi itu.

Profesionalisasi memiliki dua dimensi pokok yaitu peningkatan status dan perbaikan praktek. Dimensi pertama meliputi upaya profesi yang terorganisasi untuk memenuhi kriteria yang menandai tipe profesi yang ideal itu atau dalam hal profesi yang telah mantap, untuk memelihara atau bahkan memperbaiki posisi yang mempunyai hak-hak istimewa. Dimensi ini dari profesionalisasi akan berbeda dari masyarakat ke masyarakat, tapi beberapa unsurnya ialah periode persiapan yang kian panjang, keanggotaan yang berijazah dengan suatu batas yang tegas antara mereka yang sah berhak untuk membuka praktek dan mereka yang tidak, suatu pengawasan yang meningkat atas kegiatan profesi (misalnya, pengawasan atas kurikulum dalam hal mengajar), pengawasan atas pendidikan dan perijinan dari para calon anggota profesi dan seterusnya. Profesionalisasi sebagai perbaikan praktek meliputi peningkatan pengetahuan dan kecapakapan secara terus-menerus dari mereka yang menjalankan praktek. Dalam pengertian ini profesionalisasi dpaat disamakan dengan pengembangan profesional.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Total Tayangan Laman

Copyright © Keterampilan guru -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -