Jumat, 29 April 2011

Teori Belajar

1. Perkembangan Teori Belajar
Ada beberapa teori dalam belajar antara lain, teori behavioristik (tingkah laku), teori kognitif, teori konstruktivisme, teori humanisme, dan masih banyak lagi teori yang lainnya. Dalam tulisan ini, Anggirawan Nova akan sedikit memaparkan beberapa teori belajar.
Teori Behavioristik

Secara umum teori behavioristik lebih melihat sosok atau kualitas manusia dari aspek kinerja atau perilaku yang dapat dilihat secara empirik Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku. Faktor yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan maka respon akan semakin kuat begitu pula sebaliknya. Kelebihan dalam teori behavioristik dijelaskan adanya penguatan dan hukuman dalam proses belajar mengajar. Contoh, walaupun hasil kerja peserta didik jelek, kita harus tetap memberi tanggapan/penguatan positif agar peserta didik tidak down dan terpacu semangatnya. Kekurangan teori ini adalah tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon, sebab banyak hal yang berkaitan dengan pendidikan yang dapat diubah hubungan stimulus dan respon. Teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif.
Teori Kognitif
Teori ini lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan dalam aspek rasional Teori ini merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perseptual, yaitu proses untuk membangun atau membimbing siswa dalam melatih kemampuan mengoptimalkan proses pemahaman terhadap suatu objek. Teori ini dalam proses belajar sangat berpengaruh terhadap kemajuan intelektual siswa. Namun, disisi lain perkembangan moral kepribadian siswa menjadi sangat miskin karena teori ini hanya mengoptimalkan kemampuan intelektual saja tidak memperhatikan aspek moral. Teori kognitif berbeda dengan teori behavioristik karena teori ini lebih menekankan pada bagaimana informasi diproses dan menghasilkan sebuah informasi sedangkan behavioristik lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespon terhadap stimulus yang dating terhadap dirinya.
Teori Konstruktivisme
Belajar, dalam teori ini adalah proses untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan. Konsekuensinya pembelajaran harus mampu memberikan pengalaman nyata bagi siswa. Sehingga disini guru lebih sebagai fasilitator artinya guru bukanlah satu-satunya sumber belajar yang harus ditiru dan segala ucapan dan tindakannya selalu benar, akan tetapi, siswa harus aktif, kreatif dan kritis. Teori ini memberikan kebebasan bagi peserta didik untuk belajar dimanapun dan kapanpun tidak harus di ruang kelas sehingga memberikan ruang gerak peserta didik yang luas untuk memperoleh pengetahuan. Di sini peserta didik tidak boleh pasif karena informasi dan pengetahuan yang di dapatkan terbatas. Untuk itu guru perlu memfasilitasi dalam proses belajar mengajar. Seiring dengan perkembangan zaman, dalam proses pelaksanaa teori konstruktivisme mengalami pergeseran kemajuan karena dibantu dengan perkembangan teknologi. Sebagai contoh dengan adanya internet akan memudahkan siswa dalan mengakses segala informasi yang dibutuhkan, sehingga diharapkan siswa yang pandai memnfaatkan waktu akan semakin menguasi apa yang disampaikan oleh gurunya dan mampu memberikan inspirasi kepada siswa uantuk berfikir kreatif.
Teori Humanistik
Teori ini menjelaskan bahwa proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia. Teori ini lebih menekankan bagaimana persoalan manusia dari berbagai dimensi yaitu dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik sehingga teori ini mencakup teori-teori sebelumnya. Konsekuensinya guru harus mampu memiliki sifat, karakter dan tampilan yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Dalam teori ini lebih menekankan pada perkembangan kepribadian individu untuk membangun hal-hal yang positif erat kaitannya dengan emosi positif. Individu diajak untuk bertindak jujur, menghargai, menghormati orang lain dan sikap emosi positif lainnya. Selain itu peserta didik dapat juga diajarkan tentang kemampuan berimajinasi agar kemampuan otaknya dapat berkembang. Tugas guru lebih berat karena harus menampilkan karakter dan sifat yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Teori humanistik bersifat ideal yaitu memanusiakan manuasia sehingga mampu memberikan arahan terhadap semua komponen pembelajaran, dalam prosesnya semua sarana prasarana dapat digunakan asalkan dapat memanusiakan manusia. Teori ini mementingkan siswa agar berfikir induktif yaitu mementingkan pengalaman serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa teori konstruktivisme hampir sama dengan teori humanistik, sedangkan pergeserannya adalah pada teori humanistik lebih mementingkan terciptanya manusia yang ideal.
Dari pemaparan diatas dapat diketahui bahwa masing-masing dari teori belajar memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun dari banyak teori belajar yang ada, semuanya memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan dari tinjauan historis dan sesuai dengan kebutuhan manusia pada saat dulu hingga saat ini. Sehingga banyak teori yang bermunculan untuk memenuhi kebutuhan manusia agar tercapainya suatu tujuan pembelajaran yang baik.

2. Fungsi Teori Belajar
Melanjutkan wacana tentang Pendidikan dalam proses belajar mengajar, mulai dari pengertian definisi,  , tujuan dan Tokoh-Tokoh yang berperan aktif dalam peningkatan Kualitas Pedidikan dalam postingan kali ini kita akan sedikit mencoba mengetahui tentang fungsi teori belajar.
Menurut Gage & Berliner (2005: 6-8) psikologi belajar memiliki beberapa fungsi, yaitu untuk: menjelaskan, memprediksikan, mengontrol fenomena (dalam kegiatan belajar mengajar), dan dalam pengertiannya sebagai ilmu terapan juga memiliki fungsi merekomendasikan.
Teori belajar berfungsi memberikan pemahaman mengenai sifat dan keterkaitan berbagai aspek dalam belajar dan pembelajaran. Dalam hal ini teori belajar mengkaji konsep mengenai aspek perilaku Manusia yang terlibat dalam belajar dan pembelajaran, serta lingkungan yang terkait. Sebagaimana dijelaskan bahwa perilaku murid terkait dengan konsep-konsep tentang pengamatan dan aktifitas psikis (intelegensi, berfikir,motivasi), gaya belajar, individual defferencies, dan pola perkembangan individu. Sedangkan perilaku guru terkait dengan pengelolaan pembelajaran kelas, metode, pendekatan, dan model mengajar. Lebih lanjut, aspek lingkungan yang terkait dan berperan dalam aktifitas belajar-pembelajaran yakni lingkungan sosial dan instrumental.
Di samping fungsi pemahaman, teori belajar berfungsi memberikan prediksi-prediksi berkenaan saling terlibatnya aspek-aspek dalam belajar-pembelajaran. Terjadinya perubahan dalam satu aspek akan berpengaruh pada aspek lainnya. Misalnya, tingkat intelegensi dan motivasi individu dapat dipergunakan untuk memprediksikan prestasi belajar yang akan dicapai. Selanjutnya, keadaan fisik dan kondisi psikologis anak dapat memprediksikan kemungkinan kesulitan yang akan ditemui dalam proses belajarnya. Dengan demikian, guru dapat melakukan upaya-upaya pemberian bantuannya.
Fungsi pengendalian atau mengontrol terkait dengan manipulasi yang mungkin dibuat. Tentu kita memahami bahwa pengetahuan anak tentang lingkungan tempat tinggal diperoleh dari mata pelajaran Pengetahuan Sosial (PS). Bilamana ada di antara topik-topik tertentu tidak diajarkan, maka mereka tidak memiliki pengetahuan tentang topik-topik itu. Guru dapat merekayasa sekelompok anak yang diberi perlakuan tertentu (pembelajaran PS), sedangkan sekelompok yang lain tidak, sehingga dapat diketahui perbedaan hasilnya. Dengan demikian, pengetahuan murid mengenai pengetahuan sosial dikontrol dengan pembelajaran PS.
Fungsi teori belajar rekomendatif. Sebagai ilmu terapan, teori belajar tidak hanya memberikan wawasan konseptual terkait dengan fenomena belajar-pembelajaran, tetapi menyediakan sejumlah rekomendasi untuk praktik pembelajaran. Meskipun rekomendasi tersebut berupa rambu-rambu umum, tidak secara akurat berkonsekuensi dengan masalah yang dihadapi guru. Rekomendasi tidak secara langsung ditujukan pada kasus per kasus masalah pembelajaran, tetapi saran dan pertimbangan rekomendatif yang diajukan diharapkan tetap dapat dijadikan pedoman bagi guru untuk mengambil keputusan instruksionalnya.
Rekomendasi dalam pengambilan keputusan itu dikaitkan dengan komponen pembelajaran. Mengenai hal ini, Gage & Berliner menggolongkannya menjadi lima hal utama, yaitu: dalam menentukan dan mengorganisasikan tujuan pembelajaran; memahami karakteristik murid; memahami bagaimana belajar itu terjadi dan upaya membangkitkan motivasi murid; memilih dan melaksanakan metode pembelajaran efektif; dan melaksanakan penilaian yang tepat.
Dengan demikian, psikologi belajar dapat membantu guru untuk memahami bagaimana individu belajar, yang tercakup di dalamnya adalah pengertian dan ciri-ciri belajar serta bentuk dan jenis belajar. Dengan mengetahui individu belajar maka kita dapat memilih cara yang lebih efektif untuk membantu memberikan kemudahan, mempercepat, dan memperluas proses belajar individu.

3. Klasifikasi Teori Belajar
Klasifikasi teori belajar dalam pembelajaran

Secara garis besar teori belajar menurut Gredler dapat dibedakan menjadi 3 ( tiga) : Conditioning theory, Conection theories, dan Insightful learning.
 
1. Conditioning theory
Condioning theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa belajar merupakan suatu respons dari stimulus tertentu. Teori ini dikemukakan oleh Parlov, dan dikembangkan oleh Watson, Guthreich, dan Skinner. Secara rinci hasil experiment yang dilakukan oleh Parlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar.
  • Law of respondent conditioning
  • Law or respondent extinction
Selanjutnya Watson mengembangkan teori belajar dengan berpola pada penemuan Parlov. Dia berpendapat bahwa belajar adalah merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Guthreic memperluas penemuan Watson yang dikenal dengan The Law Of Association, yaitu suatu kombinasi stimuti yang telah menyertai suatu gerakan. Kemudian Skinner mengembangkan teori belajar ini dengan teori Operant conditioning, yaitu tingkah laku bukanlah sekedar respons terhadap stimulus, tetapi suatu tindakan yang di sengaja atau operant. Secara rinci hasil experiment yang dilakukan BF.Skinner terhadap tikus adalah
  • Law of operant conditioning
  • Law of operant extinction
2. Conection theories
Conection theories merupakan teori belajar yang menyatakan behwa belajar merupakan pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respons. Yeori ini dikembangkan oleh Thorndike yang juga dinamakan train and error learning. Hukum belajar dinamakan Law efektif yaitu
  • Segala tingkah laku yang menyenangkan akan di ingat dan mudah dipelajari
  • Segala tingkah laku yang tidak menyenangkan dan mudah dipelajari
  • Aplikasi teori ini dengan adanya pemberian ganjaran, hukuman, dll.
Secara rinci hasil experiment yang dilakukan Thorndhike terhadap kucing adalah
  • Law of effect
  • Law of readines
  • Law of ekecise
3. Insightful learning
Insightful learning adalah belajar menurut pandangan kognitif. Disebut dengan Gestal dan Field theories. Aplikasi teori Gestal dalam proses pembelajaran, antara lain :
  • Pengalaman tilikan (Insight)
  • Pembelajaran yang bermakna (Meaningful learning)
  • Prilaku bertujuan (Purposive behavior)
  • Prinsip ruang hidup (Life space)
Selanjutnnya teori Gestalt dikembangkan oleh Piaget. Menurut Piaget teori belajar merupakan :
  • Proses belajar dari konkrit ke yang abstrak
  • Pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan mental baru yang sebelumnya
  • Perubahan umur mempengaruhi kemampuan belajar individu.
Teori belajar Burner merupakan pengembangan dari teori belajar Gestalt Insightful Learning. Dalam pendekatan ini mengandung makna bahwa refleks belajar berkisar pada manusia sebagai pengolah terhadap informasi (masukan) yang diterimannya untuk memperoleh pemahaman. Dasar pemikiran teori ini adalah :
  • Belajar berinteraksi dengan lingkungan secara aktif
  • Orang menciptakan sendirisuatu kerangka kognitip bagi diri sendiri.
Namun demikian teori ini jugaada kelemahannya, yaitu memerlukan banyak biaya, waktu lama, dan kepemilikan teori dasar mutlak diperlukan. Untuk mengurangi kekurangan tersebut ada pengembangan teori Insightful Learning ini dengan tetap membangun kerangka kognitif sendiri tidak dengan induktif tetapi deduktif.
C. Paradigma pembelajaran
Paradigma pembelajaran dapat dibedakan secara garis besar menjadi 2, yaitu : Paradigma Behaviorisme dan Paradigma Konstruktivisme.
1. Paradigma Behaviorisme
Pandangan behaviorisme sebenarnya merupakan penerapan dari teori belajar conditioning theories. Penjelasan diatas dapat menggambarkan bahwa menurut Operant conditioning ada 3 komponen belajar, yaitu :
  • Stimulus diskriptif
  • Response peserta didik, dan
  • Konsekwensi perkuatan operant pembelajaran
Asumsi yang membentuk landasan untuk conditioning theories ini adalah :
  • Belajar adalah tingkah laku
  • Perubahan tingkah laku secara fungsional terkait dengan adanya perubahan kejadian di lapangan
  • Hubungan antara tingkah laku dan lingkungan berpengaruh jika sifat tingkah laku dan kondisidapat terkontrol secara seksama
  • Data dari studi eksperimental tingkah laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat diterima sebagai penyebab terjadinya tingkah laku
  • Tingkah laku organisme secara individu merupakan sumber daya yang cocok
  • Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan adalah sama untuk semua mahluk hidup
2. Paradigma Konstruktivisme
Dasar paradigma konstruktivisme adalah memandanng bahwa pengetahuan bersifat non objektif, temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Sehingga cirri kontruktivisme adalah ketidakteraturan.
Menurut pandangan konstruktivisme belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktifitas kolaboratif, dan refleksi serta interprestasi. Secara ringkas penetaan lingkungan belajar berdasarkan pandangan konstruktivisme menurut Wilson (1997) adalah sebagai berikut :
  • Menyediakan pengalaman belajar melalui proses pembentukan pengetahuan
  • Menyediakan pengalaman belajar yang kaya akan berbagai alternative
  • Mengintregrasi proses belajar menengajar dengan konteks yang nyata dan relevan
  • Mengintegrasi belajar dengan pengalaman bersosialisasi
  • Meningkatkan penggunaan berbagai media disamping komunikasi tertulis dan lisan
  • Meningkatkan kesadaran peserta didik dalam proses pembentukan pengetahuan mereka.
Dengan penataan lingkungan belajar seperti disebutkan di atas diharapkan mendapatkan hasil aplikasi pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran, antara lain :
  • Peserta didik memiliki sikap dan persepsi positif terhadap belajar
  • Peserta didik mengintegrasikan pengetahuan baru dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya, misalnya mengklasifikasikan, membangun, membandingkan dan menganalisis masalah
  • Peserta didik memiliki kebiasaan mental yang produktif, untuk menjadi pemikir yang mandiri, kritis, dan kreatif
Secara ringkas manusia yang diharapkan dalam konstruktivisme adalah berpikir kreatif, berani mengambil keputusan, dapat memecahkan masalah, belajar segaimana belajar, kolaborasi dan pengelolaan diri. Menurut pandangan konstruktivisme belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit aktivitas kolaboratif, refleksi, dan interprestasi.
Teori belajar kognitif menurut Plaget 
Plaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran kontruktivisme. Salah satu sumbangan pikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembengan individu. Menurut Plaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap, yaitu :
  • Sensory motor
  • Pre operational
  • Concrete operational dan
  • Formal operational
Implikasi teori perkembangan kognitif Plaget dalam pembelajaran adalah :
  • Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Olehkarna itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak
  • Anak-anak akan belajar lebih baik daripada apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya
  • Bahan yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing
  • Berikan peluang agar anak belajar sesuai dengan tahap perkembangannya
  • Didalam kelas anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temannya
Teori pemprosesan informasi dari Robert Gagne
Asumsi yamg mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan factor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pemprosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dari kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran mempunyai delapan fase, yaitu :
  • Motivasi
  • Pemahaman
  • Pemerolehan
  • Penyimpanan
  • Ingatan kembali
  • Generalisasi
  • Perlakuan dan umpan balik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar